Maret 19, 2011

Pendaftaran Pertukaran Pemuda Antar Negara 2011 DKI Jakarta

Pertukaran Pemuda Antar Negara yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga bekerjasama dengan Dinas Pemuda dan Olahraga merupakan Program Pelatihan Kepemimpinan. Program yang sedang dibuka untuk wilayah DKI Jakarta antara lain:
Pertukaran Pemuda Indonesia Kanada : 1 orang Perempuan ( 18 – 23 tahun )
Pertukaran Pemuda Indonesia Australia : tidak ada kuota ( 21 – 25 tahun )
Pertukaran Pemuda Indonesia Malaysia : 1 orang laki laki ( 23 – 27 tahun )
Pertukaran Pemuda Indonesia Korea Selatan : tidak ada kuota ( 18 – 25 tahun )
Pertukaran Pemuda Indonesia China : 1 orang laki laki ( 18 – 25 tahun )
Pertukaran Pemuda ASEAN-Jepang : 1 orang Laki laki dan 1 orang perempuan
( 20 – 30 tahun )

Persyaratan calon peserta tingkat Propinsi DKI Jakarta :
  1. Warga Negara Indonesia
  2. Memiliki KTP DKI Jakarta
  3. Sesuai dengan Kriteria Usia yang di syaratkan oleh program
  4. Sehat Jasmani dan Rohani
  5. Minimal Lulus SMU
  6. Belum Menikah
  7. Aktif dan berminat dalam bidang pemberdayaan masyarakat
  8. Memiliki akses yang kuat dalam bidang pemberdayaan pemuda
  9. Belum Pernah mengikuti program pertukaran pemuda dengan luar negeri yang diselenggarakan oleh pemerintah
  10. Menguasai salah satu atau lebih jenis keterampilan kesenian
  11. Mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris baik lisan maupun tulisan dengan skor kompetensi minimum memenuhi salah satu sistem tes sebagaimana ketentuan berikut: TOEIC 400, TOEFL Paper 432, TOEFL CBT 120, TOEFL IBT 40, atau IELTS 3,5 
  12. Belum Pernah Terlibat dalam Tindakan Kriminal dan dijatuhi hukuman berdasarkan keputusan pengadilan, dibuktikan dengan SKCK
  13. Lulus Seleksi Tingkat Propinsi dan Tingkat Nasional
  14.  Lulus seleksi Medical Check Up pada RS yang ditunjuk oleh Kedutaan Besar negara tujuan di Jakarta 
  15. Calon peserta yang tidak lolos dalam Medical Check Up di Jakarta, maka nominasinya akan digantikan oleh calon peserta unggulan kedua dari provinsi dimaksud dengan jenis kelamin yang sama.
Pendaftaran dilakukan pada hari kerja Jam 10:00-15:00 WIB (istirahat jam 12:00-13:00) di Kantor Dinas Pemuda dan Olahraga DKI Jakarta Jl Jatinegara Timur no 55 Jakarta Timur (sebelah RS Mitra Internasional, dekat terminal bus Kampung Melayu). Pendaftran di Lantai 4 dengan Ibu Eha : Langsung ambil dan isi formulir di tempat. Yang harus dibawa pada saat pendaftaran antara lain:
  1. Fotokopi KTP 
  2. Pas Foto 4×6 & 3×4 @ 2 lembar
Pendaftaran terakhir tanggal akhir Maret 2011 atau awal April 2011, apabila jumlah pendaftar sudah 100 orang atau lebih (per tanggal 18 Maret 2011 jumlah pendaftar baru sekitar 50 orang). 
Setelah mendaftar, sekitar tanggal 20 April dan seterusnya, mengambil jadwal seleksi di Kantor Dinas Pemuda dan Olahraga DKI Jakarta. Materi Seleksi :
Bahasa Inggris, Pengetahuan Umum, Pengetahuan Pariwisata, Pengetahuan Budaya Betawi, Pengetahuan Pemerintahan, Pengetahuan Olahraga dan Kepemudaan, Kesenian dan Keterampilan.

Persyaratan Administratif bagi peserta yang lulus seleksi
  1. Akte kelahiran atau kenal lahir;
  2. Izin tertulis bermaterai Rp.6000,- asli dari orang tua / instansi yang bersangkutan,
  3. Menyerahkan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) dari Kepolisian Daerah setempat;
  4. Surat pernyataan peserta bermaterai Rp.6000,- yang telah ditandatangani pula oleh orang tua / instansi yang mengirimkan peserta, menyatakan kesediaan untuk mentaati peraturan yang ditetapkan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga;
  5. KTP yang masih berlaku;
  6. Fotokopi paspor yang masih berlaku (paspor asli harap dibawa ketika acara Pre Departure Training);
  7. Fotokopi sertifikat kompetensi Bahasa Inggris (TOEIC / TOEFL / IELTS / Cambridge Exam) yang disahkan Kadispora / Kadisdik tingkat Kota / Kabupaten;
  8. Pasfoto berwarna 2X3 dan 4X6 masing-masing sebanyak 6 lembar;
  9. Menyerahkan karya tulis dalam Bahasa Inggris (minimal 1000 kata) mengenai kegiatan selama mengikuti program dan rencana kegiatan pasca program.
Pembiayaan
  1. Yang ditanggung masing-masing daerah adalah biaya pengurusan paspor di provinsi masing-masing.
  2. Yang ditanggung oleh Pemerintah Provinsi adalah uang saku peserta selama mengikuti program; biaya perjalanan dari tempat tinggal ke ibukota provinsi; akomodasi selama di ibukota provinsi.
  3. Yang ditanggung oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga adalah: Biaya visa, airport tax dan tiket ke negara tujuan PP; Transport dari ibukota provinsi – Jakarta (PP) untuk mengikuti program; Perlengkapan dan akomodasi selama mengikuti program; Biaya medical check up untuk peserta PPIK dan PPIA
Apa perbedaan dari masing-masing program? berikut penjelasannya:

Indonesia-Canada Youth Exchange Program (ICYEP)
Di Indonesia, ICYEP lebih dikenal dengan sebutan Pertukaran Pemuda Indonesia-Kanada (PPIK). Program ini berlangsung atas kerjasama pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga dan organisasi Canada World Youth (CWY).
Program berlangsung selama kurang lebih 6 bulan dengan dibagi menjadi 2 fase, yaitu fase Kanada (3 bulan) dan fase Indonesia (3 bulan). Selama program, peserta akan tinggal di rumah keluarga angkat (host family) dan dipasangkan dengan seorang rekan pemuda dari Kanada. Beberapa kegiatan selama PPIK berlangsung antara lain kerja sosial (social works), pemberdayaan masyarakat setempat, dan kesempatan untuk belajar bekerja secara profesional melalui program Work Placement (penempatan kerja).
PPIK berlangsung sekitar bulan September-Februari.

Australia-Indonesia Youth Exchange Program (AIYEP)
AIYEP Australia-Indonesia Youth Exchange Program Pertukaran Pemuda Indonesia-Australia (PPIA) pertama kali diadakan tahun 1981. Program ini merupakan gagasan dari Department of Foreign Affair and Trade (DFAT) Australia yang menunjuk Australia-Indonesia Institute (AII) untuk bekerjasama dengan Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga (Kemenegpora) Republik Indonesia dalam menyelenggarakan program pertukaran pemuda diantara kedua negara.
Program ini terdiri dari 4 fase, fase Australia selama 2 bulan dan di Indonesia selama 2 bulan. Di masing-masing negara dilaksanakan fase kota dan fase desa. Setiap tahunnya, lokasi AIYEP selalu berubah, berpindah dari satu negara bagian ke negara bagian lain, juga ketika di Indonesia lokasi setiap tahunnya akan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.
Selama 2 bulan pertama, hanya peserta Indonesia saja yang akan menjalani program di Australia, dan 2 bulan terakhir peserta Australia akan bersama dengan peserta Indonesia menjalani program di Indonesia.
Jumlah peserta Indonesia adalah 18 orang dari 18 provinsi yang berbeda, terdiri dari 9 peserta Wanita dan 9 peserta pria, begitu pula dengan peserta Australia. total peserta adalah 36 orang.
Sejak tahun 2002, selama fase Australia, AIYEP dikoordinir oleh The Communication Network (TCN), sebuah konsultan yang bergerak di bidang projek bilateral dengan Indonesia.
Di Indonesia, AIYEP dikoordinir oleh Kemenpora yang menunjuk seorang Liaison officer yang pertama kali pada tahun 2010 yang menjadi perpanjangan tangan menpora dalam koordinasi selama program fase Indonesia berjalan. koordinasi program akan berada di lingkungan pemerintah nasional (Kemenpora) dan juga pemerintah lokal (Dispora provinsi, kota dan kabupaten).
Kegiatan peserta diantaranya adalah : Homestays di masing-masing fase, Workplacement, Culture performance, dan juga Community development projects.
AIYEP dilaksanakan sekitar bulan Oktober-Januari 

Indonesia-Malaysia Youth Exchange Program (IMYEP)
Program Pertukaran Pemuda Indonesia-Malaysia (PPIM) atau juga sering disebut sebagai Indonesia-Malaysia Youth Exchange Program (IMYEP) merupakan salah satu implementasi dari Memorandum of Understanding antara pemerintah Indonesia dan Kementrian Belia dan Sukan Malaysia. Kesepakatan tersebut bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada para pemuda untuk saling belajar pengalaman dari kedua negara khususnya dan dunia internasional umumnya.
Bentuk program ini adalah kegiatan bersama pemuda Indonesia dan Malaysia di Indonesia dan di Malaysia secara bergantian setiap tahunnya. Pada tahun 2007, sesuai dengan kesepakatan yang sudah ada, Indonesia mengirimkan pemuda-pemudi pilihannya ke Malaysia. Program yang dilaksanakan antara lain Courtesy Call, Institutional Visits, Training of Trainers (TOT) dan Homestay. IMYEP berlangsung sekitar bulan Juli selama kurang lebih 2 minggu.

Indonesia-Korea Youth Exchange Program (IKYEP)
Indonesia – Korea Youth Exchange Program (IKYEP) atau Pertukaran Pemuda Indonesia – Korea (PPIKor) adalah program pertukaran pemuda yang difasilitasi oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia dengan Ministry of Gender Equality and Family Republic of Korea (Kementerian Kesetaraan Gender dan Keluarga Republik Korea).
Memorandum of Understanding (MoU) di antara dua kementerian ditandatangani pada tahun 2009. Di mana pada tahun 2010, diselenggarakan untuk pertama kalinya pertukaran pemuda di antara kedua negara.
Di Indonesia, kegiatan pertukaran pemuda ini dikoordinasikan dan dilaksanakan oleh Kementerian Pemuda dan Olah Raga Republik Indonesia. Sedangkan di Korea, kegiatan pertukaran pemuda ini dilaksanakan oleh Korea Youth Exchange Center.
Pada November 2010, Indonesia mengirimkan 10 duta muda Indonesia. Perwakilan Indonesia ini terdiri dari lima orang pemuda dan lima orang pemudi yang berasal dari delapan provinsi di Indonesia yaitu Provinsi Jawa Barat, Provinsi Riau, Provinsi Lampung, Provinsi Banten, Provinsi DKI Jakarta, Provinsi DI Yogyakarta, Provinsi Jawa Timur, dan Provinsi Bali.
Kegiatan PPIKor ini berlangsung dalam dua fase. Pertama adalah fase Korea. Kedua adalah fase Indonesia. Masing-masing fase berdurasi sepuluh hari. adapun yang menjadi kegiatan utamanya ialah, Courtesy Call, Kunjungan dan diskusi ke tempat-tempat kegiatan kepemudaan baik di Indonesia maupun di Korea, Homestay, dan Cultural Performance.
IKYEP berlangsung sekitar bulan November.

Pertukaran Pemuda Indonesia China
no further info

Ship for South East Asian Youth Program (SSEAYP)
Program Kapal Pemuda Asia Tenggara atau yang lebih dikenal sebagai Ship for South-East Asia Youth Program (SSEAYP) merupakan program pertukaran pemuda yang pertama kali dirintis oleh negara-negara anggota ASEAN dengan Jepang di tahun 1974. Seiring berkembangnya keanggotaan ASEAN, maka di tahun 1997 keseluruhan negara anggota ASEAN telah bergabung di program ini. Program ini dikelola oleh negara-negara peserta program dan Jepang sebagai sponsor utama.
Di Indonesia, program ini dilaksanakan di bawah koordinasi Kementrian Negara Pemuda dan Olahraga. Secara umum, program ini bertujuan untuk memperkuat jejaring (network) dan pemahaman antarbudaya yang saling menguntungkan (mutual understanding) di antara pemuda Asia Tenggara dan Jepang. Di samping itu, SSEAYP itu sendiri juga dimaksudkan untuk meningkatkan motivasi pemuda serta memajukan kerjasama internasional melalui pelaksanaan berbagai kegiatan selama program.
Secara umum, kegiatan SSEAYP dibagi menjadi kegiatan di atas kapal (kegiatan selama kapal berlayar, dikenal dengan sebutan “On Board Activities”. Tahun 1974-2008 kapal yang digunakan adalah M.S. Nippon Maru, sejak tahun 2009 menggunakan kapal M.S. Fuji Maru) dan kegiatan di darat (saat kapal berlabuh, dikenal dengan sebutan “Country Program”. Negara tujuan kapal berlabuh berubah setiap tahunnya. Biasanya terdiri dari Jepang dan 5 negara ASEAN).
Kegiatan diatas kapal antara lain:
• Diskusi:
peserta akan dibagi dalam beberapa kelompok sesuai tema diskusi yang paling diminiati. Melalui kegiatan ini diharapkan peserta mampu menambah pengetahuan dengan saling berbagi informasi bersama peserta dari negara-negara lain
• Solidarity Group Activities:
Selama SSEAYP peserta akan dikelompokkan dalam sebuah tim (disebut Solidarity Group, atau lebih dikenal sebagai SG) yang beranggotakan peserta program dari negara-negara yang berbeda. Mereka akan melaksanakan serangkaian kegiatan selama program berlangsung. Melalui kegiatan kelompok semacam ini peserta diharapkan dapat memperoleh wawasan antarbudaya dan jalinan persahabatan yang lebih erat dengan pemuda dari negara lain
• Club Activities:
Dalam kegiatan ini, perwakilan dari masing-masing negara peserta diberikan kesempatan untuk dapat saling berbagi pengetahuan kebudayaan (cultural knowledge) mereka dengan mengajarkan dan mempertunjukkan kepada peserta dari negara-negara lain. Kegiatan ini akan menambah wawasan para peserta akan seni dan budaya negara lain.
Kegiatan ketika kapal berlabuh antara lain:
• Welcome Ceremony:
Upacara penyambutan resmi saat kapal berlabuh di negara tujuan. Penyambutan dilakukan oleh pemerintah dan panitia lokal.
• Courtesy Calls:
Merupakan kunjungan resmi ke berbagai institusi pemerintah. Umumnya peserta program ini akan berkunjung dan disambut secara resmi oleh kepala negara yang bersangkutan.
• Institutional Visits:
Dalam kegiatan ini peserta program akan dibagi ke dalam beberapa kelompok, di mana masing-masing kelompok akan berkunjung ke berbagai institusi pemerintah maupun swasta serta beberapa tempat menarik lainnya (misalnya: studio televisi atau institusi media, universitas setempat serta sejumlah obyek wisata).
• Interaction with Local Youth:
Dalam kegiatan ini peserta akan berinteraksi dengan pemuda setempat di negara yang disinggahi dalam berbagai bentuk kegiatan, antara lain forum diskusi serta berbagai keterlibatan dalam kegiatan kepemudaan setempat lainnya.
• Homestay:
Dalam kegiatan ini peserta akan tinggal bersama keluarga lokal di negara yang disinggahi. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan pada peserta program untuk dapat merasakan kehidupan sebagaimana layaknya masyarakat setempat. Peserta akan diposisikan sebagai anggota keluarga di mana mereka akan ikut serta melaksanakan ritual harian sekaligus menjalankan berbagai kebiasaan setempat. Diharapkan melalui kegiatan ini peserta mampu mengembangkan kemampuan berinteraksi sosial lintas budaya yang lebih kuat sekaligus menanamkan nilai-nilai persahabatan dan perdamaian.
• Farewell dan Send-Off Ceremony:
Sebagai penutup kegiatan Country Program, peserta akan dilepas dalam sebuah upacara perpisahan sekaligus pelepasan untuk kembali berlanjut berlayar.
SSEAYP berlangsung bulan Oktober-Desember selama 52 hari.
sumber:


November 19, 2010

Reading and Writing: a form of 'Cogito Ergo Sum'

I was googling to find inspiration for my Capital Market assignment on Sharia in Asia from my BAPEPAM's lecturer when I stranded on an interesting blog post from Hidayat Amir. He is a researcher in the Fiscal Policy Office of the Indonesian MoF. It surprised me that we work in the same office, the Ministry of Finance, but different agency. We are also graduated from the same college. Anyway, this post isn't going to be about him, but about his blog post. Pardon me, Mr. Hidayat, for my audacity, but I have to mention you because as I said before, your blog is a wake up call for my brain hibernation *grin*

okay, focus on the subject now.. Mr. Hidayat's post was about an economic model, namely the Laffer Curve. It was introduced by Arthur Laffer. The curve describes that an increase in tax tariff won't automatically increase tax revenue. Laffer himself got the concept from a Moslem scholar from Tunisia, Ibnu Khaldun. Ibnu Khaldun is famous for his book, The Muqaddimah, the book about history, science and economy. Ever since I was little, I always feel curious about Moslem scholars, because my lecturers often told me that all science and knowledge in this world is derived from the holy book of Al Qur'an. Unfortunately since the decadency of Islam when the Turkey Ottoman fell, the works of these brilliant scholars was left behind. Anyway, knowing that Ibnu Khaldun is also talk about economy in his book, I was intrigued to read his book. Try to google using several keyword, I was astounded as I found out that I can read his works online

I read a couple essays and felt admonished by his writing on the one of the aspects of making a living about craftmanship. His sentence is "The crafts, especially writing and calculation, give intelligence to the person who practices them". It shooks me in the head. I remembered my forgotten blog. I kept on postponing writing on this blog, whereas I've already made promise to myself to start a new learning phase by writing everything I have in mind. I remembered a book from Mr. Hernowo, named Mengikat Makna. In general, the book is about how we can generate more meaningful things by writing it down, it's called binding an understanding about knowledge to our head so that (hopefully) we won't forget it forever. I've practiced it several times, and I think it really works, I just need to practice it even more.

Well, this reading and writing for me, is a must. I remember a quote from René Descartes: "Cogito Ergo Sum". Maybe this line is quite familiar for some of us. The meaning is "I'm thinking, therefore I exist". My interpretation on this quotation is reading, thinking, understanding, and writing is human's basic needs. Therefore, if someone doesn't perfom those actions, then people can consider him/her as not exist. Sounds awful? Well, maybe I'm being overreacted on this *evil grin* I have a justification for this, my overreacting behavior is a way to encourage me to read and write more, so I can bind the meaning of knowledge in my head. The goal is to have Allah's blessings, as Muslim hadith says "When a man dies, his deeds come to an end, except for three: A continuous charity, knowledge by which people derive benefit, pious son who prays for him.'' Amin. Insya Allah.